Kemendag Perkuat Standardisasi Produk Kriya Yogyakarta untuk Meningkatkan Kesiapan Ekspor

Kementerian Perdagangan memperkuat kesiapan ekspor produk kriya Daerah Istimewa Yogyakarta melalui peningkatan mutu, standardisasi, perlindungan kekayaan intelektual, serta pemahaman regulasi negara tujuan. Upaya tersebut diwujudkan melalui bimbingan teknis standardisasi bidang perdagangan di Yogyakarta pada 22 Oktober 2026 yang melibatkan pelaku UMKM kriya dan pemangku kepentingan daerah. Bagi pelaku Bisnis, langkah ini penting karena daya tarik desain saja belum cukup untuk memasuki pasar global. Konsistensi mutu, kepatuhan teknis, perlindungan desain, dan strategi pemasaran perlu berjalan bersama agar produk lokal semakin siap bersaing.
Standardisasi Menjadi Fondasi Penting untuk Ekspor Produk Kriya
Kerajinan asal Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki nilai estetika dan budaya yang kuat, tetapi pasar ekspor menuntut lebih dari sekadar tampilan. Kementerian Perdagangan menekankan bahwa konsistensi mutu dan kepatuhan regulasi menjadi syarat yang tidak dapat diabaikan. Bagi pelaku Bisnis, pendekatan ini berarti proses produksi perlu dibuat lebih konsisten. Dengan kontrol mutu yang rutin, peluang produk memenuhi ekspektasi buyer dapat meningkat.
Penerapan standar juga membantu UMKM menyesuaikan produk dengan tujuan pasar. Aspek seperti jenis bahan, keamanan produk, kandungan bahan tertentu, ketahanan, finishing, serta konsistensi ukuran dapat mempengaruhi penerimaan produk. Jika persyaratan tersebut baru diperiksa ketika barang sudah siap kirim, perusahaan dapat kesulitan melakukan penyesuaian. Karena itu, mutu perlu dibangun dari awal, bukan menjadi tugas tambahan menjelang ekspor.
Kemendag Dorong Pelaku Kriya Meningkatkan Kesiapan Global
Pendampingan kepada pelaku kriya dilakukan melalui bimtek yang membahas mutu dan ekspor bertajuk program penguatan mutu kriya untuk pasar internasional. Kegiatan yang diselenggarakan di DIY pada akhir Oktober 2026 diikuti 215 peserta. Materi yang diberikan mencakup berbagai aspek dari mutu hingga promosi internasional.
Pendampingan seperti ini penting karena UMKM sering menghadapi kebutuhan teknis sekaligus komersial. Pelaku Bisnis perlu menggabungkan pengetahuan pasar dengan kesiapan internal. Program pemerintah yang membawa berbagai pemangku kepentingan dalam satu forum dapat mengurangi kesalahan awal. Hal tersebut juga sejalan dengan agenda penguatan UMKM ekspor.
Pemahaman Aturan Negara Tujuan Membantu Mengurangi Risiko
Salah satu tantangan utama dalam ekspor produk kriya adalah regulasi teknis negara tujuan. Produk berbasis berbagai komponen produksi dapat menghadapi batasan teknis tertentu. Kemendag menyoroti tantangan seperti EUDR untuk kriya berbasis kayu dan serat alam serta pembatasan kandungan bahan berbahaya. Jika aturan tersebut tidak dipahami, eksportir dapat menghadapi penahanan produk, penolakan, atau kerugian.
Sebagai bagian dari dukungan, Kemendag juga memperkenalkan LAMANSITU sebagai sumber informasi mutu yang dapat membantu mencari informasi mengenai standar pasar ekspor. Bagi pelaku Bisnis, penggunaan informasi seperti ini dapat mengurangi ketergantungan pada asumsi. Jika produk akan dikirim ke lebih dari satu negara, perusahaan dapat menghindari penggunaan satu standar untuk semua pasar. Pendekatan ini mendorong kesiapan yang lebih profesional.
Desain Industri Membantu Memperkuat Identitas Bisnis
Selain standardisasi, perlindungan hak atas desain dan identitas usaha juga menjadi bagian penting dalam penguatan kriya. Produk kerajinan sering memiliki bentuk, motif, teknik, dan karakter visual yang khas. Tanpa pendaftaran hak yang relevan, pelaku usaha dapat menghadapi risiko peniruan. Karena itu, pembekalan dalam kegiatan Kemendag juga mengangkat pentingnya kekayaan intelektual.
Bagi produsen kriya dengan desain khas, kekayaan intelektual dapat mendukung pengembangan nilai produk. Ketika desain, merek, dan cerita produk dikelola dengan baik, perusahaan dapat menawarkan nilai yang lebih jelas kepada buyer. Pada saat yang sama, perlindungan tersebut perlu menjadi bagian dari strategi menyeluruh. Kreativitas tanpa mutu yang konsisten tidak cukup untuk membangun hubungan jangka panjang, sementara standardisasi tanpa identitas dapat mengurangi daya tarik merek.
Strategi Bisnis Kriya Perlu Menggabungkan Mutu, Branding, dan Pasar
Daya saing internasional tidak hanya ditentukan oleh standardisasi. Pelaku Bisnis juga perlu mengembangkan strategi pemasaran serta negosiasi. Dalam bimtek tersebut, peserta mendapatkan pembekalan tentang aspek pemasaran dan strategi komersial. Hal ini menunjukkan bahwa produk yang memenuhi standar tetap membutuhkan akses ke pembeli.
UMKM kerajinan dapat memulai dengan memilih pasar yang sesuai, kemudian menyiapkan spesifikasi serta dokumentasi. Pengembangan pasar sebaiknya dimulai secara bertahap. Dengan pasar yang lebih terarah, sumber daya untuk pemenuhan standar serta pemasaran dapat dialokasikan secara lebih tepat. Langkah tersebut juga membantu perusahaan meningkatkan kapasitas berdasarkan pengalaman sebelum menambah pasar baru.
Kesimpulan: Standardisasi Memperkuat Kesiapan Ekspor Kriya Yogyakarta
Pendampingan standardisasi bagi pelaku kerajinan Yogyakarta menunjukkan bahwa kesiapan ekspor membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Kualitas produk dan kesiapan Bisnis perlu diterapkan sejak tahap produksi. Dengan pemanfaatan sumber regulasi seperti LAMANSITU, UMKM dapat meningkatkan profesionalisme.
Bagi pelaku Bisnis kriya, langkah yang paling penting adalah menyesuaikan standar produk sebelum mencari volume penjualan besar. Keindahan dan cerita lokal tetap menjadi kekuatan, tetapi keduanya perlu dilengkapi kepatuhan teknis. Bangun perlindungan desain dan strategi pasar secara terarah agar peluang ekspor dapat dimanfaatkan lebih optimal.








